“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).

Sabtu, 12 Januari 2013

Belajar Bahasa Arab Sangat Penting

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya. Kita meminta pertolongan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejelekan hawa nafsu dan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada seorang pun yang sanggup menunjuki-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah. Beliau pun telah menunaikan amanah. Beliau telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad. Semoga shalawat dan salam dari Allah selalu terlimpah kepadanya, kepada keluarga, para sahabat dan segenap pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat tiba.
KEMULIAAN BAHASA ARAB
Sesungguhnya bahasa Arab merupakan bahasa yang dipilih oleh Allah untuk agama ini. Tidak ada seorang cerdik pun yang meragukan jikalau peranan bahasa Arab bagi ilmu-ilmu Islam itu sebagaimana peranan lisan bagi segenap anggota badan. Bahkan, tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa sesungguhnya kedudukan bahasa Arab itu ibarat jantung bagi tubuh manusia. Sebab ia merupakan bahasa agama Islam yang paling luhur. Dengan bahasa inilah Al Qur’an Al ‘Azhim diturunkan. Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf : 2)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,”Hal itu dikarenakan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih, bahasa yang paling gamblang dalam hal pemaparan, bahasa yang paling luas cakupannya, dan bahasa yang paling banyak menyentuh berbagai makna yang dirasakan di dalam jiwa. Oleh sebab itulah kitab yang paling mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia pula…”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya tatkala Allah menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, tatkala Allah mengangkat Rasul-Nya sebagai penyampai Al Kitab dan Al Hikmah dari-Nya melalui lisan beliau yang berbahasa Arab, tatkala Allah menjadikan orang-orang yang terdahulu membela agama ini dalam keadaan bertutur kata dengan bahasa itu, dan terlebih lagi tatkala tidak ada cara lain untuk memelihara keutuhan ajaran agama dan memahaminya kecuali dengan menjaga bahasa ini, maka itu berarti mempelajarinya termasuk bagian dari ajaran agama dan akan lebih memudahkan orang dalam menegakkan syi’ar-syi’ar agama.”
Allah pun telah mencirikan Kitab-Nya sebagai sebuah kitab yang berbahasa Arab dan tidak mengandung kebengkokan. Allah mensifati Al Qur’an sebagai sesuatu yang lurus. Selain itu Allah juga mensifati Al Qur’an dengan sesuatu yang jelas. Allah berfirman yang artinya,”Allah menurunkan Al Qur’an ini dengan bahasa Arab yang jelas.” Allah pun mensifatinya dengan keadilan. Allah berfirman yang artinya,”Dan demikian pula Kami turunkan ia sebagai keputusan (keadilan) yang berbahasa Arab.” (dinukil dari Ta’liqaat Jaliyah)
HUKUM MEMPELAJARINYA
Syaikhul Islam mengatakan: “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah : Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib. Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” (Iqtidho shirothil mustaqim)
KEDUDUKAN ILMU NAHWU
Ilmu Nahwu adalah ilmu yang sangat penting. Sebab segala bidang ilmu syari’at pasti memerlukannya. Oleh sebab itu para penuntut ilmu sudah semestinya bersungguh-sungguh dalam memahami kaidah bahasa Arab dan berusaha untuk tidak terjatuh dalam kekeliruan dalam penuturan kata bahasa Arab. Khalifah Rasyid ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu menulis surat untuk Abu Musa Al Asy’ari yang isinya mengatakan,”Amma ba’du. Dalamilah ilmu As Sunnah. Pelajarilah ilmu bahasa Arab. I’rablah Al Qur’an, sebab ia itu berbahasa Arab.” Beliau pun berpesan,”Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia adalah bagian penting dari agama kalian. Pelajarilah ilmu waris, karena ia juga bagian penting dari agama kalian.”
Al Ashma’i rahimahullah mengatakan,”Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa penuntut ilmu tatkala dia tidak paham Nahwu maka dia akan tergolong kelompok orang yang disabdakan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di dalam neraka.” (HR. Bukhari [108] dan Muslim [1/10])
Maka tidaklah mengherankan jika Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan tentang keagungan ilmu Nahwu ini,”Orang yang memiliki pengetahuan yang luas dalam hal ilmu Nahwu maka dia akan menemukan jalan untuk menyusuri seluk beluk setiap bidang ilmu.” (Syadzaratu dzahab, Ibnul ‘Imad Al Hanbali, 231) Beliau juga pernah mengatakan,”Tidaklah ada sebuah pertanyaan masalah hukum yang dilontarkan kepadaku melainkan aku bisa menjawabnya dengan bantuan kaidah ilmu Nahwu.” (Syadzaratu dzahab, Ibnul ‘Imad Al Hanbali, 231) Beliau menegaskan bahwa ilmu Nahwu adalah jembatan untuk memahami ajaran syari’at. Beliau berkata,”Tidak ada maksudku dalam menekuninya -yaitu ilmu bahasa Arab- kecuali untuk membantuku dalam memahami persoalan hukum.” (Siyar A’lamin Nubalaa’, 1/75) (dinukil dari Ta’liqaat Jaliyah)
AWALNYA AGAK SULIT TAPI AKHIRNYA MUDAH
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Sesungguhnya ilmu Nahwu adalah ilmu yang mulia. Sebuah ilmu perantara yang menjembatani kepada dua hal yang sangat penting; Pertama : guna memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu dikarenakan pemahaman terhadap banyak permasalahan yang ada di dalamnya sangat tergantung kepada pemahaman ilmu Nahwu. Kedua : guna membenarkan ucapan menurut kaidah bahasa Arab, yang dengan bahasa inilah Kalamullah ‘Azza wa jalla diturunkan. Oleh sebab itu pemahaman ilmu Nahwu adalah perkara yang sangat penting. Meskipun untuk memahami Nahwu memang pada awalnya terasa sukar, namun pada akhirnya akan terasa mudah. Ada sebagian orang yang membuat perumpamaan tentang ilmu Nahwu ibarat sebuah rumah yang terbuat dari bambu namun pintunya terbuat dari besi. Maksudnya, rumah itu sulit untuk dimasuki, namun jika kamu sudah memasukinya maka segala sesuatu akan menjadi mudah bagimu. Karena itulah sudah semestinya setiap orang bersemangat dalam mempelajari prinsip-prinsip dasar ilmu tersebut sehingga materi-materi lainnya akan terasa mudah baginya. Janganlah dipikirkan komentar orang yang mengatakan,”Nahwu itu sulit.” Sehingga hal itu akan memunculkan anggapan dalam diri seorang penuntut ilmu bahwasanya dirinya tidak mungkin bisa menguasainya. Padahal ungkapan itu tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi hendaknya kamu perkuat pemahamanmu terhadap prinsip-prinsip dasarnya sehingga materi-materi lainnya akan menjadi mudah untuk dimengerti.” (Syarah Ajurumiyah)
NIAT BAIK DAN PEMAHAMAN YANG BENAR
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim..” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44)
MENJAGA KEIKHLASAN
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : Dengan cara apakah dapat diperoleh keikhlasan dalam menuntut ilmu ? Beliau menjawab : Ikhlas dalam menuntut ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa hal :
Pertama : Dalam belajar engkau berniat demi melaksanakan perintah Allah. Karena Allah telah memerintahkannya, Allah berfirman (yang artinya), “Maka ketahuilah bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu”. Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga mendorong orang supaya menuntut ilmu. Sedangkan dorongan Allah atas sesuatu memberikan konsekuensi kecintaan dan keridhaan Allah terhadap hal itu.
Kedua : Dalam belajar engkau berniat demi menjaga syari’at Allah. Karena penjagaan syari’at Allah itu hanya bisa dilakukan dengan mempelajari dan menghafalkannya di dalam dada, dan bisa juga dengan mencatat.
Ketiga : Dalam belajar engkau berniat untuk melindungi syari’at dan membelanya. Karena seandainya tidak ada ulama niscaya syari’at tidak akan terlindungi. Dan tidak ada seorang pun yang menjadi pembelanya. Oleh sebab itulah, misalnya, kita dapati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama yang lainnya bersikap lantang memusuhi ahli bid’ah dan membeberkan kebatilan bid’ah-bid’ah mereka, maka kami berpandangan bahwa mereka itu memperoleh kebaikan (pahala) banyak sekali.
Keempat : Dengan belajar itu engkau berniat mengikuti syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena engkau tidak mungkin bisa mengikuti syari’at beliau kecuali apabila engkau sudah mengetahui isi syari’at ini.
Kelima : Dengan belajar itu engkau berniat dalam rangka menghilangkan kebodohan dari dirimu sendiri dan dari orang lain (Kitabul ‘Ilmi, hal. 199)
BELAJAR DENGAN SABAR
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh menasehatkan,“Dalam tahapan menuntut ilmu ada dasar-dasar ilmu yang harus dipelajari. Ilmu itu juga bertingkat-tingkat. Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu sesuai dengan tingkatan-tingkatannya serta tidak memulainya dengan ilmu-ilmu yang dasar-dasar, maka sesungguhnya dia tidak akan bisa meraih hasilnya dengan baik. Perkara ini sering sekali saya ingatkan supaya ia tertanam kuat di dalam hati para penuntut dan pecinta ilmu. Yaitu sebuah prinsip penting yang menyatakan bahwasanya : Ilmu itu seharusnya dituntut sedikit demi sedikit dan berjalan terus beriringan dengan perjalanan waktu siang dan malam. Sebagaimana hal itu pernah dilontarkan oleh seorang Imam yang sangat populer yaitu Ibnu Syihab Az Zuhri. Ketika beliau mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan segudang ilmu secara sekaligus maka niscaya ilmu itu akan hilang darinya juga secara tiba-tiba. Karena sesungguhnya ilmu harus ditimba (sedikit demi sedikit) seiring dengan perjalanan waktu siang dan malam.” (Syarh Arba’in An Nawawiyah)
Inilah sedikit faedah yang bisa saya kumpulkan terkait dengan bahasa Arab dan kiat-kiat dalam mempelajarinya. Semoga bisa bermanfaat bagi penulisnya, pembacanya dan siapa pun yang turut menyebarluaskannya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

Kamis, 10 Januari 2013

Sedekah Kunci Sukses

Sudah bukan rahasia lagi kalau sedekah merupakan alat untuk membuat kita kaya. Bagaimana bisa? Bukankah sedekah itu member? Bagaimana mungkin member bisa membuat kita kaya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan dari orangyang masih belum paham arti sedekah yang sebenarnya.
Tahukah anda bahwa member dengan jalan sedekah sebenarnya merupakan tabungan kita untuk akherat. Harta yang kita miliki sebenarnya adalah harta yang kita sedekahkan. Jadi, semakin banyak kita bersedekah, semakin banyak pula tabungan kita untuk akherat nanti.
Menurut ustadz Yusuf Mansur yang sangat getol mensosialisasikan sedekah, sedekah yang dalam terminology Islam berrati berbagi ini merupakan kunci kesuksesan seseorang dalam berbisnis. Jika diperhatikan, pengusaha-pengusaha sukses adalah mereka yang banyak berbagi dengan sesamanya. Kita jarang sekali mendengar kan ada seorang pengusaha sukses yang sangat pelit?
Nabi juga pernah bersabda dalam hal sedekah, bahwa Allah SWT akan mengganti berkali-kali lipat harta yang engkau gunakan untuk bersedekah. Jika Allah SWT yang mengatakan seperti itu, siapa lagi yang biasa menghalanginya.
Bahkan sebuah ilmu ekonomi islam mengatakan bahwa ada beberapa hal yang membuat orang bisa menjadi mapan secara financial, yaitu: berdagang, investasi, emas, dan sedekah.  Ke empat hal inilah yang diajarkan untuk mencapai kekayaan dalam islam, bukan menabung atau menumpuk-numpuk harta.
Kepopuleran sedekah sebagai lambing kekayaan ini bahkan sudah go public. Pernahkah anda melihat kaos-kaos anak muda yang sekarang banyak beredar di pasaran yang bertuliskan slogan “Sedekah pangkal Kaya”? itulah keajaban sedekah. Semakin banyak kita member, semakin banyak pula yang akan kita dapat.
Tetapi sejatinya bukan itu yang kita harapkan. Sedekah merupakan sesuatu yang wajib karena ada sebagian dalam harta kita yang menjadi hak orang lain. Allah SWT yang maha pemberi menitipkan sebagian rizki orang lain kepada kita. Jadi, kewajiban kita adalah mengembalikannya.
Jika sampai tidak, maka kesengsaraan yang akan kita dapat karena telah menggunakan harta yang sebenarnya bukan menjadi milik kita.
Dalam sebuah ceramah, ustadz Yusuf Mansur juga selalu mengait-ngaitkan ibadah sedekah ini dengan shalat dhuha. Sedekah akan lebih afdol jika dibarengi dengan shalat dhuha, kenapa? Karena shalat dhuha merupakan shalat pembuka pintu rizki kita.
Jika hanya dengan sedekah saja Allah SWT akan mengganti harta berkali lipat, ditambah lagi dengan shalat pembuka pintu rizki, bisa anda bayangkan kesuksesan macam apa yang bisa diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang rajin malakukan ibadah sedekah dan melaksanakan shalat dhuha.
Tak akan habis harta kita dengan dipakai sedekah, bahkan janji Allah SWT akan melipat gandakannya merupakan awal dari kesuksesan dunia dan akherat melalui kegiatan yang dinamakan sedekah. Semoga dengan pengetahuan ini anda jadi semakin rajin bersedekah.
Photo Credit by : Maistora @flickr.com

DAFTAR DOSA-DOSA BESAR

Dosa besar ke-1     : Menyekutukan Allah (Berkeyakinan dan berbuat syirik)
Dosa besar ke-2    : Membunuh orang lain
Dosa besar ke-3    : Melakukan sihir, santet, guna-guna, dan semacamnya
Dosa besar ke-4    : Meninggalkan shalat secara sengaja, tanpa udzur syar’i
Dosa besar ke-5    : Menolak membayar zakat
Dosa besar ke-6    : Durhaka kepada kedua orang tua
Dosa besar ke-7    : Memakan harta hasil riba
Dosa besar ke-8    : Memakan harta anak yatim
Dosa besar ke-9 : Berdusta atas nama Nabi shallallahu ’alaihi wasallam (Membuat dan menyebarkan hadits palsu)
Dosa besar ke-10  : Berbuka pada siang hari bulan Ramadhan tanpa udzur ataupun rukhshah
Dosa besar ke-11   : Melarikan diri dari medan jihad yang sedang berkecamuk
Dosa besar ke-12   : Melakukan zina, dan ia sendiri bertingkat-tingkat dosanya
Dosa besar ke-13   : Penguasa yang berkhianat terhadap rakyatnya
Dosa besar ke-14  : Meminum khamr (minuman keras/memabukkan) meskipun tidak sampai mabuk
Dosa besar ke-15    : Bersikap sombong, membanggakan diri, dan mengagumi diri-sendiri
Dosa besar ke-16    : Memberikan kesaksian palsu
Dosa besar ke-17    : Berprilaku dan berbuat homoseks (liwath)
Dosa besar ke-18    : Menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina (qadzf)
Dosa besar ke-19    : Menyembunyikan (mencuri) harta rampasan perang
Dosa besar ke-20    : Mengambil harta orang lain secara batil
Dosa besar ke-21    : Mencuri
Dosa besar ke-22    : Merampok dan mem-begal atau merompak
Dosa besar ke-23    : Bersumpah palsu
Dosa besar ke-24    : Sengaja berdusta
Dosa besar ke-25    : Melakukan tindakan bunuh diri, dan ini termasuk dosa besar yang paling besar
Dosa besar ke-26    : Hakim yang curang
Dosa besar ke-27    : Laki-laki yang mendiamkan isteri atau keluarganya bertindak serong, berlaku nista, dan berbuat tak senonoh (dayyuts)
Dosa besar ke-28    : Wanita yang berpenampilan dan berprilaku menyerupai laki-laki atau laki-laki yang berpenampilan dan berprilaku menyerupai wanita
Dosa besar ke-29    : Laki-laki muhallil, yakni yang menikahi wanita yang telah ditalak tiga oleh mantan suaminya, dengan niat langsung menceraikannya kembali, sesuai kesepakatan, agar bisa dinikahi lagi oleh suami lamanya, demikian pula sang suami lama yang menyuruh lelaki muhallil tersebut
Dosa besar ke-30    : Memakan bangkai, darah, dan daging babi
Dosa besar ke-31    : Tidak bersuci setelah buang air kecil
Dosa besar ke-32: Mengambil upeti dari para pedagang dan semacamnya, termasuk didalamnya pungutan-pungutan liar.
Dosa besar ke-33    : Berbuat riya’, atau pamer amal
Dosa besar ke-34    : Berkhianat atau mengkhianati amanat
Dosa besar ke-35   : Menuntut ilmu agama murni karena mengejar kepentingan duniawi, begitu sikap sengaja menyembunyikan ilmu dari orang-orang yang membutuhkannya
Dosa besar ke-36    : Suka mengungkit-ungkit pemberian
Dosa besar ke-37    : Mengingkari takdir
Dosa besar ke-38    : Mencuri dengar rahasia orang lain
Dosa besar ke-39    : Suka melaknat dan mencaci
Dosa besar ke-40    : Mengkhianati pemimpin
Dosa besar ke-41    : Membenarkan dukun, ahli nujum, paranormal, dan semacamnya
Dosa besar ke-42    : Wanita yang durhaka kepada suaminya
Dosa besar ke-43    : Memutuskan tali hubungan silaturahim
Dosa besar ke-44    : Pembuat patung dan gambar makhluk bernyawa
Dosa besar ke-45     : Suka menyebarkan fitnah (namimah)
Dosa besar ke-46    : Meratapi mayit (niyahah)
Dosa besar ke-47    : Mencela nasab (keturunan), merendahkan suku, dan semacamnya
Dosa besar ke-48    : Berbuat zhalim kepada sesama makhluk Allah
Dosa besar ke-49   : Memberontak terhadap imam yang sah secara syar’i dengan mengangkat senjata, dan mengkafirkan sesama muslim yang melakukan dosa besar. Dimana keduanya merupakan penyimpangan utama firqah Khawarij.
Dosa besar ke-50    : Menyakiti dan menghina sesama muslim
Dosa besar ke-51    : Menyakiti dan memusuhi para wali Allah
Dosa besar ke-52    : Laki-laki yang memanjangkan pakaian bawahnya sampai dibawah mata kaki (isbal) karena sikap sombong
Dosa besar ke-53    : Laki-laki yang mengenakan sutera dan emas
Dosa besar ke-54    : Budak yang melarikan diri dari tuannya
Dosa besar ke-55    : Menyembelih binatang sembelihan untuk dipersembahkan kepada selain Allah
Dosa besar ke-56    : Mengubah batas tanah, demi merampas hak orang lain
Dosa besar ke-57    : Mencela sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam
Dosa besar ke-58     : Mencela kaum Anshar secara khusus
Dosa besar ke-59 : Menyeru kepada kesesatan atau memelopori perbuatan yang buruk (membuat ”sunnah” yang buruk)
Dosa besar ke-60    : Wanita yang menyambung rambutnya, membuat tato di badannya, dan melakukan perubahan pada bagian-bagian tubuhnya dengan tujuan agar lebih indah dan semacamnya
Dosa besar ke-61    : Mengancam dan menodong saudaranya (sesama muslim) dengan senjata
Dosa besar ke-62    : Menisbatkan diri kepada selain ayah kandungnya
Dosa besar ke-63 : Thiyarah/Tathayyur, yang berarti meyakini akan adanya kesialan, dikaitkan hal-hal tertentu secara secara tidak syar’i, atau tidak logis.
Dosa besar ke-64    : Makan dan minum dari piring dan gelas yang terbuat dari emas atau perak
Dosa besar ke-65    : Melakukan debat kusir (berdebat untuk menang-menangan)
Dosa besar ke-66    : Mengebiri, menyiksa, dan membuat cacat budak/hamba sahaya
Dosa besar ke-67    : Berlaku curang dalam hal timbangan dan takaran
Dosa besar ke-68    : Merasa aman dari hukuman dan siksa Allah
Dosa besar ke-69    : Berputus asa dari rahmat Allah
Dosa besar ke-70    : Mengingkari kebaikan orang yang telah berbuat baik kepadanya
Dosa besar ke-71 : Menolak dengan sengaja untuk memberikan kelebihan air ke ladang tetangga
Dosa besar ke-72    : Membuat cap dan memukul pada muka binatang
Dosa besar ke-73    : Berjudi
Dosa besar ke-74    : Melakukan kejahatan (membunuh dan semacamnya) di Tanah Suci
Dosa besar ke-75    : Meninggalkan sholat Jum’at secara sengaja tanpa udzur syar’i
Dosa besar ke-76    : Memata-matai sesama muslim dan membuka rahasia kelemahan umat Islam kepada musuh
* Diringkaskan dari kitab Al-Kabaa-ir  wa Tabyiin al-Mahaarim  karya Imam Adz-Dzahabi.

Selasa, 25 Desember 2012

Menjadi Pribadi Yang Bersyukur

Rubrik: Tazkiyatun Nufus | Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA - 11:23 | 30/07/07
Dr. Attabiq Luthfi, MAMereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (Saba’:13)
Ayat ini mengabadikan anugerah nikmat yang tiada terhingga kepada keluarga nabi Daud as sebagai perkenan atas permohonan mereka melalui lisan nabi Sulaiman as yang tertuang dalam surah Shaad: 35, “Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Betapa nikmat yang begitu banyak ini menuntut sikap syukur yang totalitas yang dijabarkan dalam bentuk amal nyata sehari-hari.
Tampilnya keluarga Daud sebagai teladan dalam konteks bersyukur dalam ayat ini memang sangat tepat, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:
“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”.
Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat. Dalam riwayat lain yang dinyatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh bahwa nabi Daud pernah mengadu kepada Allah ketika ayat ini turun. Ia bertanya: “Bagaimana aku mampu bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari Engkau? Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena engkau mengakui nikmat itu berasal daripada-Ku”.
Keteladanan nabi Daud yang disebut sebagai objek perintah dalam ayat perintah bersyukur di atas, ternyata diabadikan juga dalam beberapa hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”
Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt.
Secara redaksional, yang menarik karena berbeda dengan ayat-ayat yang lainnya adalah bahwa perintah bersyukur dalam ayat ini tidak dengan perintah langsung “Bersyukurlah kepada Allah”, tetapi disertai dengan petunjuk Allah dalam mensyukuri-Nya, yaitu “Bekerjalah untuk bersyukur kepada Allah”. Padahal dalam beberapa ayat yang lain, perintah bersyukur itu langsung Allah sebutkan dengan redaksi fi’il Amr, seperti dalam firman Allah yang bermaksud, Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152), juga dalam surah Az-Zumar: 66, “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.
Redaksi seperti dalam ayat di atas menunjukkan bahwa esensi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.
Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.
Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan dalam rangka mensyukuri Allah swt.
Makna inilah yang difahami oleh Rasulullah saw ketika Aisyah mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan seakan-akan memaksa diri hingga kakinya bengkak-bengkak. Saat ditanya oleh Aisyah, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosa-dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah (jika demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari).
Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Dalam pandangan Sayid Qutb, penutup ayat di atas “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian hamba Allah swt dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu menandingi nikmat Allah swt yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak terbilang. Sehingga sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka yang tidak mensyukurinya sama sekali. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.
Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Allah swt berfirman diantaranya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (Saba’:19). Ayat yang senada dengan redaksi yang sama diulang pada tiga tempat, yaitu surah Ibrahim: 5, Luqman: 31, dan surah Asy-Syura’: 33.
Memang komitmen dengan akhlaqul Qur’an, di antaranya bersyukur merupakan satu tuntutan sekaligus kebutuhan di tengah banyaknya cobaan yang menerpa bangsa ini dalam beragam bentuknya. Jika segala karunia Allah swt yang terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan senantiasa mengacu kepada aturan Allah swt, Sang Pemilik Tunggal, maka tidak mustahil, Allah swt akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya untuk bangsa ini dan menjauhkannya dari malapetaka, karena demikianlah balasan yang tertinggi yang disediakan oleh Allah swt bagi komunitas dan umat yang senantiasa mampu mensyukuri segala bentuk nikmat Allah swt:
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (An-Nisa’:147) Allahu A’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/07/214/menjadi-pribadi-yang-bersyukur/#ixzz2G7TWT8km